Monday, October 25Magelang Online
Shadow

Tradisi “Dung” di Masjid Agung Magelang

masjid agung magelang postSekira belasan tahun yang lalu, takmir Masjid Agung Kauman Magelang, Jawa Tengah, mempunyai cara unik untuk menandai waktu berbuka puasa. Mereka menggunakan tanda yang disebut “bom” udara atau dung.

“bom” yang dimaksud adalah sejenis petasan berbentuk bola berdiameter sekitar 10 sentimeter. Di dalam bola itu diisi serbuk mercon yang di tengahnya dipasang sumbu. Ketika hendak menyulut bom diletakkan di ujung tabung besi sepanjang lebih kurang 1,5 meter. Sebelum dinyalakan, bom yang sudah dipasang di tempatnya harus diarahkan ke atas atau udara, kemudian dinyalakan menggunakan korek api pada sumbunya. Setelah itu, bom akan meluncur ke atas diiringi dengan suara dentuman seperti suara bom.

Menjelang detik-detik berbuka puasa atau menjelang maghrib, bom itu ramai-ramai dinyalakan di tengah lapangan alun-alun depan masjid tua itu. Konon, suara dentuman yang keras bisa terdengar hingga di seluruh pelosok Kota Magelang.

Masyarakat setempat mengenalnya dengan suara dung. “Suara itulah yang oleh warga Magelang menjadi satu-satunya tanda berbuka puasa. tradisi menyalakan bom sudah ada bahkan sejak dirinya belum lahir. Tradisi tersebut menjadi momen yang paling ditunggu-tunggu warga Magelang dan sekitarnya. Namun sayang, sejak ada pelarangan menyalakan petasan beberapa tahun lalu, tradisi bom itu juga ikut dilarang oleh pemerintah. Tradisi tersebut kemudian diganti menggunakan sirene yang dipasang di atas tugu water torn di Alun-alun.

Namun, penggunaan sirene itu pun tidak berlangsung lama karena sirene rusak dan tidak pernah diperbaiki hingga sekarang. “Penanda berbuka puasa lantas diganti menggunakan tabuhan beduk dan suara azan melalui pengeras suara sampai sekarang.

Masjid Agung atau populer juga dengan Masjid Jami’ Kauman Kota Magelang berawal dari mushala yang dibangun tahun 1650 oleh Kyai Mudzakir. Tahun 1779, Danuningrat (bupati ketiga Magelang) membangun menjadi masjid dan bertahan hingga sekarang.

Lalu, masjid yang menjadi pusat penyiaran agama Islam di Magelang itu mengalami pemugaran pada tahun 1935, sekaligus dibuat tembok pembatas. Tahun 1981 mendapat tambahan serambi dan menara yang dibangun oleh Bagus Panuntun, Wali Kota Magelang kala itu.

Sumber: kompas.com

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *